Lalu waktu melakukan tugasnya. Kita dipisahkan oleh mimpi masing-masing. Berjalan ke arah yang berbeda, dengan cerita yang juga berbeda. Dan anehnya… di antara semua jarak dan waktu itu, nama kamu tetap nggak pernah benar-benar hilang. Sampai akhirnya kita dipertemukan kembali. Bukan lagi dua anak SMA yang canggung, tapi dua orang yang sudah belajar banyak tentang hidup. Dan dari situ, semuanya terasa lebih nyata. Dari yang awalnya cuma ingin tahu kabar, jadi ingin selalu ada. Dari yang katanya santai saja, malah jadi yang paling nggak bisa ditinggalkan. Kita mulai menulis cerita baru— tentang tawa yang lebih dewasa, tentang tangis yang lebih dalam, tentang ego yang perlahan belajar untuk kalah. Kita nggak sempurna. Sering beda pendapat, sering juga sama-sama keras kepala. Tapi di setiap itu, kita selalu menemukan jalan untuk kembali— karena ternyata, rumahnya tetap kamu.