Awalnya kami hanyalah dua mahasiswa dari kampus dan fakultas yang sama, yaitu jurusan Manajemen. Tahun 2021 menjadi pertama kalinya kami saling mengenal, meskipun hanya sebatas saling notice di media sosial. Saat itu Adit sempat mengikuti akun Instagramku dan beberapa kali mengirim pesan. Ada yang kubalas, ada juga yang sengaja kuabaikan. Lucunya, entah kenapa saat itu aku justru merasa tidak suka padanya. Bahkan karena rasa tidak sukaku, aku pernah memberikan pertanyaan yang sulit saat ia presentasi dan membuat Adit akhirnya ikut tidak menyukaiku juga.
Waktu terus berjalan hingga kami memasuki semester 5. Suatu hari, tanpa direncanakan, kami bertemu di taman kampus. Pertemuan itu benar-benar tidak sengaja. Saat itu aku menghampiri temanku yang ternyata sedang duduk bersama Adit. Mau tidak mau kami akhirnya ikut berbincang. Awalnya kupikir obrolan itu hanya akan menjadi basa-basi singkat, tetapi ternyata percakapan kami berlangsung cukup lama ditemani teman kami juga. Dari pertemuan sederhana itulah semuanya mulai berubah.
Setelah hari itu, Adit meminta nomor WhatsApp-ku dan kami mulai berkomunikasi lebih intens. Perlahan aku mulai memahami arah dan tujuan pendekatannya. Aku tahu Adit memiliki rasa tertarik kepadaku. Namun di sisi lain, aku masih merasa bingung. Saat itu aku memang belum memiliki niat untuk menjalin hubungan. Selain ingin fokus kuliah, mamaku juga selalu berpesan agar aku menyelesaikan pendidikan terlebih dahulu dan tidak memikirkan pacaran dulu.
Beberapa bulan kemudian, Adit akhirnya mengungkapkan perasaannya padaku. Namun saat itu aku belum mampu memberikan jawaban apa pun. Bahkan sebulan setelahnya, ketika ia kembali menanyakan tentang hubungan kami dan ingin tahu arah hubungan ini akan dibawa ke mana, aku tetap belum bisa memberi kepastian. Meski begitu, hubungan kami tetap berjalan dengan sendirinya, mengalir begitu saja tanpa dipaksa.
Tidak terasa, delapan bulan kami saling dekat. Hingga akhirnya terjadi hal yang benar-benar tidak pernah kuduga sebelumnya. Orang tua Adit datang ke rumah dengan niat untuk meminangku untuk Adit. Jujur saja, aku dan keluargaku sangat terkejut. Saat itu aku bahkan belum benar-benar memperkenalkan Adit kepada keluargaku, karena aku masih memegang pesan mamaku untuk fokus menyelesaikan kuliah terlebih dahulu.
Dua bulan setelah pertemuan keluarga itu, kami akhirnya memutuskan untuk bertunangan. Dan setelah hampir tiga tahun bersama, kami pun memutuskan untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Memang, jarak antara pertunangan dan pernikahan kami cukup panjang. Namun di dalam perjalanan itu, kami melewati banyak proses, pelajaran, dan ujian yang akhirnya semakin meyakinkan kami untuk melangkah bersama menuju kehidupan yang baru sebagai pasangan suami istri.